h1

Berhentilah menjadi Gelas

29 August, 2008

Sumber dari cerita ini juga unknown. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari merenungkan cerita ini.

.

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

 


“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum.
Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda. Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
.

“Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
.

Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.
.

“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
.

“Sekarang kau ikut aku” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.
.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
.

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
.

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
.

“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh TUHAN, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
.

Si murid terdiam, mendengarkan.
.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ”hati” yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

.

Saya percaya apa yang terjadi kepada kita memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan terhadap apa yang menimpa kita. Karena tidak ada gunanya jika kita fokus terhadap hal2 negatif daripada kehidupan kita. Lebih baik kita fokus terhadap hal2 yang positif.

Karena apa yang kita fokus atau kita pikirkan-lah yang akan berkembang  / ter-manifestasi. Apabila seseorang mempunyai hutang Rp. 5juta dan tabungan Rp. 1juta, dan orang tersebut fokus kepada hutangnya yang ada, meratapinya…tanpa melakukan usaha untuk melunasinya….maka hutangnya akan berbunga terus …..berkembang. Tetapi orang lain dengan situasi yang sama, akan tetapi orang ini lebih fokus kepada Rp 1juta yang dia punya, dan berusaha mengembangkannya dengan segala macam usaha dan cara……maka Rp.1juta-nya yang akan berkembang dan dia pun lambat laun akan mempunyai cukup dana untuk melunasi atau paling tidak memperkecil hutangnya. (situasi yang sama, sikap yang berbeda maka hasilnya juga akan berbeda). Memang tidak selamanya hal ini pasti terjadi, tetapi yang PASTI adalah apabila kita mencoba, kemungkinan kita berhasil akan jauh lebih baik, tetapi kalau kita tidak berusaha, maka PASTI tidak akan bisa.

Seringkali kita merasakan bahwa masalah yang ada berasal dari luar, jadi hal hal luarlah yang harus diperbaiki. Tetapi apabila kita me-renungkan contoh cerita diatas, ternyata seringkali masalahnya ada didalam diri kita sendiri, apabila kita merubah diri kita sendiri (dari gelas menjadi danau), maka apa yang sebelumnya kita anggap sebagai masalah bisa berubah dengan sendirinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: