h1

Hidup adalah PILIHAN

1 September, 2008

Di awal bulan September ini saya ingin mengangkat sebuah kisah nyata yang sangat menarik dimana benar benar membuktikan arti sebenarnya dari judul artikel ini……

Puluhan tahun silam, tepatnya, pada tgl 23 Juni 1940, lahirlah bayi prematur yang diberi nama WILMA GLODEAN RUDOLPH,dengan berat hanya 4.5 pon di Clarksville, Tennessee Amerika Serikat. Bayi ini terlahir di keluarga kulit hitam yang bukan saja dipandang rendah oleh lingkungan masyarakat – pada waktu itu – terutama yang berkulit putih,tetapi dia juga berasal dari keluarga miskin – bahkan bisa dibilang melarat, akibat ekonomi yang sedang memburuk.

Setelah si bayi selamat dari masa-masa kritis usia kelahiran prematur, setiap bulan dan tahun-tahun berikutnya, si ibu harus terus berjuan membantu bayinya bertahan hidup dari berbagai serangan sakit-penyakit, mulai dari campak, gondok, jengkering, cacar air, paru, dsb. Bahkan si ibu terpaksa melarikan anaknya ke dokter saat diketahuinya bahwa kaki anaknya yang sebelah kiri menjadi lemah dan tidak keruan bentuknya.

Ditengah kebingungan si Ibu, dokter dengan mantap menegaskan bahwa si anak yang “kurang beruntung” ini harus menerima “nasib-nya sebagai salah satu korban penyakit POLIO yang belum ada obatnya. Dokter mengatakan bahwa anak ini tidak akan bisa disembuhkan dan tidak akan bisa berjalan.

Tetapi si ibu tidak mau begitu saja menerima vonis dari dokter. Sang ibu MEMILIH dan MEMUTUSKAN untuk mencari jalan keluar bagi masalah yang sedang dihadapi oleh buah hatinya yang mungil tsb. Si ibu akhirnya menemukan sebuah tempat, yaitu RS Meharry, sebuah kampus kedokteran untuk warga kulit hitam di Fisk University di Nashville. Meskipun si ibu harus menempuh jarak 50 mil untuk terapi di RS tsb, hal ini dijalaninya dengan tekun sebanyak 2 kali seminggu selama 4tahun lamanya. Masa yang sulit ini dijalaninya dengan penuh kesabaran dan ketekunan disertai pengharapan. Hingga akhirnya Wilma dapat berjalan dengan bantuan alat penyangga kaki dari logam.

ceritanya masih terus berlanjut……….Si ibu juga mempelajari bagaimana melanjutkan terapi bagi anak-nya di rumah dan terus dikerjakan dengan setia dan disiplin yang tinggi hingga akhirnya si anak berusia 12tahun,…..anak yang telah divonis cacat seumur hidup oleh dokter, tdk akan bisa berjalan dan lumpuh, sekarang BISA BERJALAN NORMAL…tanpa alat bantu apa pun.

Rupanya, keuletan dan kegigihan sang ibu, menginspirasi si anak untuk melanjutkan perjuangan hidupnya. Sekarang, giliran si anak untuk MEMILIH dan MENGAMBIL KEPUTUSAN penting dalam hidupnya. Kali ini, si anak MEMILIH untuk menjadi seorang atlit. Luar biasa bukan ? dari seorang bayi prematur, balita polio, anak cacat, sekarang bercita-cita menjadi atlit – benar-benar “mustahil” menurut ukuran manusia pada umumnya.

Semasa remajanya, di sekolah menengah, gadis ini menjadi bintang pemain basket, bahkan sempat memecahkan rekor di negara bagiannya. Lalu ia ganti haluan dengan menjadi seorang pelari. Di usianya yang ke-16 gadis ini sudah berhasil mengikuti Olimpiade.. dan berhasil meraih medali perunggu.

Itu belum seberapa ….
Saat Olimpiade di Roma, th 1960, gadis ini menjadi atlit wanita Amerika pertama yang memenangkan 3 medali emas sekaligus (yaitu di lari 100m, 200m, dan estafet 400m).

Apabila kita mau merenungkan kisah dari Wilma, kondisi yang dihadapinya membuat dia sangat amat berhak dan layak bagi se-seorang untuk menyerah dengan kehidupan yang dialaminya. Saya juga percaya apabila Ibu Wilma dan Wilma sendiri pasrah dengan keadaan, orang orang disekeliling pun tidak akan menyalahkan mereka.

Tetapi justru sang Bunda memilih untuk melihat kehidupan yang dialaminya bukan sebagai nasib buruk yang menimpanya, akan tetapi sang Bunda memilih untuk tetap berusaha melakukan yang terbaik dengan apa yang ada didalam kontrol dia. Ketimbang meratapi nasib dan menyesali hal-hal yang berada diluar kendalinya, sang Ibu justru dengan semangat dan disiplin yang tinggi tetap berusaha menyembuhkan anaknya sehingga dapat menjadi normal. Bahkan kegigihan tersebut justru meng-inspirasi anaknya untuk menjadi lebih lagi daripada anak-anak normal lainnya. Akhirnya justru sang Bunda dan Wilma Rudolph dapat meraih kemenangan yang sejati dengan prestasi-prestasi yang berhasil di raihnya.

Saya teringat dengan ucapan maestro motivator kita yang membanggakan Andrie Wongso di sebuah seminar yang saya hadiri 2 tahun lalu.

Beliau berkata, apabila kita lunak terhadap diri kita, maka hidup akan menjadi keras. Sebaliknya apabila kita keras terhadap diri sendiri, maka kehidupan akan berubah menjadi lunak terhadap kita. Dan sebagai manusia, motivator no.1 di Indo ini menyarankan kita agar jangan mau kalah terhadap kehidupan.

Terbukti seorang Wilma Rudolph dan Ibunya yang sangat keras terhadap mereka sendiri…maka akhirnya hidup-pun melunak terhadap mereka………..

…………………………………………………………………………………….apakah INPIRASI-mu ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: